Jalak Muria yang Ramah (Edisi 2026-4)
Dahulu kala, ketika Pegunungan Muria masih menjadi sebuah pulau yang dikelilingi lautan biru, hidup seekor burung kecil yang sangat ramah bernama Jalak Muria.
Bulu Jalak Muria berkilau seperti perak dan suaranya merdu sekali. Ia suka berkicau setiap pagi di antara pepohonan rindang dan bunga-bunga hutan.
Setiap hari, Jalak Muria terbang dari satu pohon ke pohon lain sambil menyapa teman-temannya.
“Selamat pagi, Kera Abu! Sudah makan pisang hari ini?”
“Selamat siang, Rusa Tanduk! Rumputnya masih segar, ya?”
Semua hewan di Pulau Muria senang padanya sebab Jalak Muria tak pernah marah dan selalu membantu siapa pun yang kesulitan.
Suatu hari, angin laut bertiup sangat kencang. Awan tebal menutupi matahari dan hujan turun deras sekali.
Seekor anak tupai kecil ketakutan di bawah pohon besar. Lubang rumahnya kebanjiran!
Melihat itu, Jalak Muria segera menurunkan sayapnya.
“Naik ke punggungku, tupai kecil! Aku akan membawamu ke tempat tinggi!”
Dengan hati-hati, Jalak Muria terbang menembus hujan, mencari cabang pohon yang aman dan kering. Setelah anak tupai selamat, Jalak Muria kembali turun membantu hewan-hewan lain: mengantarkan daun-daun kering untuk sarang burung lain dan memberi tanda pada hewan-hewan agar menjauh dari sungai yang meluap.
Ketika hujan reda, seluruh penghuni hutan bersorak:
“Hidup Jalak Muria! Burung yang paling ramah dan berani!”
Sejak hari itu, setiap pagi di Pulau Muria terdengar suara kicau yang indah, tanda bahwa Jalak Muria masih menjaga hutan dan teman-temannya dengan hati gembira.
Meski sekarang Pegunungan Muria tak lagi menjadi pulau, orang-orang tua di sana percaya bahwa setiap kali terdengar suara burung jalak bersahutan pada pagi hari, itu adalah sapaan dari Jalak Muria yang ramah, mengingatkan kita untuk selalu menolong dan menyapa dengan hati yang baik.