Miniatur Kapal (Edisi 2025-35)
“Wah…,” seru anak-anak sekelas melihat barang-barang yang dibawa Rian.
“Libur sekolah kemarin, aku sekeluarga pergi ke kota Sabang, Aceh. Ini kubawakan oleh-oleh untuk kalian semua,” seru Rian sambil memberikan hadiah. Sebuah gantungan kunci berbentuk botol dengan kapal kecil di dalamnya.
“Wah keren. Kok kapal ini bisa muat masuk ke botol kecil ini?” tanya Rio, teman sebangku Rian.
“Kalau kata penjualnya, kapal ini bisa dilipat kecil. Setelah masuk ke dalam botol, kapal akan ditarik menggunakan kawat sehingga bisa berdiri tegak.”
“Oh… Begitu ya. Terima kasih Rian atas hadiahnya,” ucap Rio.
“Iya sama-sama. Eh Rio, nanti siang mau ke rumahku? Waktu ke Sabang kemarin, Ayahku juga beli miniatur kapal, tetapi jauh lebih besar dari ini.”
“Wah mau Rian. Pasti kapalnya lebih bagus.”
Rumah Rian dan Rio searah. Mereka berdua sering pulang sekolah bersama-sama naik sepeda.
“Wah… Bagus banget Rian kapalnya. Aku boleh pinjam enggak?”
“Tapi… ini punya ayahku.”
“Boleh ya Rian, Boleh… ya.”
“Ya sudah boleh. Tetapi, hati-hati, besok jangan lupa kembalikan, ya?”
Rio senang sekali. Dia berpamitan pada Rian dan berjanji akan menjaga miniatur kapal itu dengan baik. Setelah sampai di rumah, Rio bermain dengan miniatur kapal itu sambil bernyanyi. “Nenek moyangku seorang pelaut, Gemar mengarung luas samudra, Menerjang ombak, tiada takut, Menempuh badai, sudah biasa…”
“Eh… Eh… Aduh….!”
Prang! Tanpa sengaja Rio menjatuhkan miniatur kapal karena terpeleset! Rio pun panik. Ia takut Rian akan marah besar.
“Kenapa Rio?” Ibunya Rio bertanya.
“Ibu bagaimana ini? Miniatur kapal punya Rian pecah. Aku takut. Besok aku tidak mau ke sekolah.”
“Rio, kalau kamu berbuat salah, kamu harus minta maaf. Kamu jangan lari dari tanggung jawab.”
“Tapi, Bu?”
“Rian pasti akan mengerti,” ujar Ibu.
Keesokan harinya, Rio menyerahkan miniatur kapal yang sudah rusak ke Rian. “Rio minta maaf ya karena sudah menghancurkan miniatur kapal milik ayahmu. Sungguh, aku tak sengaja.”
Rian cemberut. Membuat Rio menjadi gugup. Kemudian Rian tiba-tiba tertawa. “Tidak apa-apa kok Rio. Terima kasih, ya karena sudah berani untuk minta maaf. Ayah pernah bilang, kalau ada orang yang sudah meminta maaf, itu artinya dia sudah menyesal dan mengakui kesalahannya.”
“Maafkan aku,” kata Rio lagi.
“Iya. Eh, Minggu besok ikut aku, yuk? Aku dan ayah mau ke rumah teman ayah yang bisa bikin miniatur kapal seperti ini. Kita juga bisa ikut belajar bikin sendiri.”
“Wah, mau dong. Terima kasih Rian, kamu sahabatku yang paling baik”
Rio sudah menyadari, meminta maaf adalah hal yang harus kita lakukan untuk mengakui kesalahan dan agar kita belajar tentang tanggung jawab.*