Pesan Lumba-lumba (Edisi 2026-3)
Langit perlahan beralih warna. Dari yang gelap gulita, muncul garis kuning tipis seperti sorot lampu senter. Lalu muncullah matahari dengan warna kuning kemerahan. Bentuknya seperti telur mata sapi.
Matahari tak tinggal diam. Ia menyapa laut dengan senyum yang ramah. Laut pun menyambutnya dengan gembira. Kedua sahabat itu seakan ingin mengatakan bahwa jangan lewatkan pagi yang indah ini. Sebentar lagi akan ada pertunjukan yang meriah.
Seperti biasanya, pada pagi hari, Pantai Lovina sangat ramai. Apalagi hari ini liburan sekolah. Lihatlah, puluhan perahu jukung telah berjejer di bibir pantai. Satu perahu ini hanya bisa memuat lima orang. Empat penumpang dan satu nakhoda (nelayan) yang duduk di belakang.
Para turis tidak ingin melewatkan momen yang indah ini. Jauh-jauh mereka datang hanya untuk melihat tarian lumba-lumba. Tariannya jauh lebih indah daripada yang ada di sirkus.
Detik berganti menit. Menit demi menit pun berlalu. Sudah lebih dari dua jam mereka menunggu, tetapi tak ada tanda-tanda kehadiran lumba-lumba.
“Ayah, mengapa lumba-lumbanya tidak datang?” tanya Lulu kepada ayahnya.
Ayah Lulu mengangkat bahunya lalu menoleh kepada pengemudi perahu. Si nakhoda hanya menggelengkan kepala. Para wisatawan mulai gelisah. Ada yang sibuk memeriksa kamera, ada pula yang berkali-kali bertanya kepada nakhodanya dengan wajah cemas.
Sementara itu, laut tetap tenang, tetapi permukaannya kosong melompong. Tidak ada satu pun sirip yang membelah air.
Tiba-tiba Luna berteriak. “Ayah, lihat! Apa itu yang dibawa ombak?”
Ayah terkejut. Banyak botol yang terapung-apung. Botol-botol itu diempas ke tepi pantai, lalu diseret kembali ke dalam laut.
“Itu lumba-lumbanya datang!” teriak Lulu senang.
Para wisatawan menoleh mengikuti arah telunjuk Lulu. Di tengah tumpukan sampah yang mengambang, muncul seekor lumba-lumba tua. Ia tidak melompat indah, tetapi berenang pelan mengelilingi perahu sambil mendorong sebuah papan kayu tua dengan moncongnya.
Di atas papan itu, tertulis pesan yang digores menggunakan kerang tajam.
“Kami mogok menari. Banyak teman kami yang sakit. Kami akan menari lagi jika laut bersih!”
Seketika, suasana menjadi hening. Lumba-lumba tua itu perlahan pergi menjauh. Sebelum menyelam, ia memberi siulan panjang.*