Rio_dan_Monyet_Gunung

Rio dan Monyet Gunung (Edisi 2026-6)

Seminggu sudah Rio tidak makan di meja makan sepulang sekolah sebagaimana biasanya. Ia memilih makan siang di halaman belakang dan menyendiri hingga sore tiba. 

Ayah-bundanya, yang awalnya khawatir kini telah terbiasa. Ini karena Rio berkilah ingin makan di halaman belakang sambil mengerjakan PR dari sekolah. 

Hingga suatu hari, Rio tak terlihat di halaman belakang hingga mentari hampir tergulung di ufuk barat. Saat itu, Ayah Rio kemudian berinisiatif mencari Rio di kebun keluarga tak jauh dari rumah mereka. 

Sesampainya di kebun singkong tersebut, ayah Rio kaget melihat anaknya sedang memberi makan monyet-monyet gunung. Sesekali terdengar tawa dari Rio, lalu diikuti tingkah monyet yang melompat menyambut makanan rumahan yang dibawa oleh anaknya. 

“Pantas saja, Rio akhir-akhir ini mengambil makanan agak banyak, ternyata ini to,” ucap Ayah Rio dalam hati.  

Selintas kemudian, Ayah Rio memanggil anaknya untuk pulang dengan lembut karena tak ingin membuat anaknya dan monyet-monyet gunung itu kaget.

“Iya, Ayah. Ini monyet lucu Yah,” ucap Rio agak kaget. 

Sesampai di rumah, Ayahnya menasihati Rio. “Nak, besok-besok hati-hati, ya kalau memberi makan monyet gunung sebab itu hewan liar. Bisa saja makanan yang kau beri tidak cocok dan bisa sakit,” urainya. 

“Oh begitu, ya, Ayah,” jawab Rio.

“Besok kita lapor ke pak mantri hutan supaya monyet gunung itu tidak pergi mendekat ke desa,” ucap Ayah Rio. 

Setelahnya, Ayah Rio dan perangkat desa serta mantri hutan mengadakan program penanaman pohon buah di dekat perbatasan desa dengan hutan. Itu dilakukan agar saat musim kemarau, monyet gunung tidak merangsek ke kebun milik warga desa atau bahkan masuk ke desa. 

Sementara itu, Rio kini bisa tetap melihat monyet-monyet gunung, melalui pos pantau milik mantri hutan yang ada di desanya. Meskipun tak lagi sedekat kemarin, ia paham bahwa hewan liar memiliki rumah dan makanan sendiri, tidak boleh sembarang memberi makan pada monyet gunung. 

Tanggal terbit: Klasika Kompas, 07-02-2026
Pengarang: Padhang Pranoto
Editor: Yudi Suharso
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
Tema: Keberanian, Keingintahuan, Peduli lingkungan, Tanggung jawab