Saat Kanoko Belajar Terima Kasih (Edisi 2025-36)
Di tengah rimbunnya Hutan Muria, hiduplah seekor macan tutul bernama Kanoko. Ia kuat, gesit, dan tak pernah takut pada siapa pun. Semua hewan di Hutan Muria menghormatinya atau lebih tepatnya, takut padanya.
Namun, Kanoko punya satu sifat buruk, yaitu ia tak pernah mau berterima kasih kepada hewan lain yang telah membantunya atau menolongnya.
Jika si Elang membantunya menemukan jalan, ia hanya pergi begitu saja. Jika si Rusa memberi tahu tempat air, ia tak mengangguk sedikit pun.
Bahkan, saat si Musang kecil menolongnya melepaskan duri di kakinya, Kanoko hanya mendesis pelan dan berjalan tanpa sepatah kata.
“Ah, untuk apa aku berterima kasih? Aku macan! Sudah seharusnya mereka membantuku,” gumam Kanoko sombong.
Sampai suatu hari, Hutan Muria diguyur hujan deras selama berhari-hari. Longsor pun terjadi.
Kanoko kemudian terjebak di dalam sebuah lubang besar yang tertutup lumpur. Ia mengaum, memanggil, dan meraung. Namun, tak ada satu pun hewan yang datang.
Kanoko merasa lemas, lapar, dan kedinginan. Waktu malam pun tiba.
Tiba-tiba, terdengar suara-suara langkah kecil dari atas lubang. “Kanoko?” panggil si Musang kecil. Lalu muncul Rusa, Elang, bahkan si Landak.
“Kami datang membantumu,” kata mereka hampir serempak.
“Kenapa?” gumam Kanoko, terkejut. “Aku tak pernah…”
“Memang benar, kamu tak pernah bilang terima kasih kepada kami,” jawab Rusa sambil tersenyum. “Tapi, kami tetap temanmu.”
Dengan kerja sama keempat hewan itu membuat tumpukan ranting dan tali dari akar serta semangat gotong royong mereka berempat, akhirnya Kanoko bisa ditarik keluar dari lubang! Kanoko pun selamat.
Saat kakinya menjejak tanah yang kering, Kanoko menunduk dalam. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berkata, “Terima kasih, teman-teman. Aku… sangat berterima kasih pada kalian.”
Teman-temannya pun mengangguk terharu.
Sejak hari itu, Kanoko tak hanya dikenal sebagai macan paling kuat di Hutan Muria, tapi juga yang tahu berterima kasih dan selalu menghargai teman.