Tarian Senja di Taman Laut Banda (Edisi 2026-7)
Manda dan Dari adalah sepasang ikan mandarin yang tinggal di celah-celah terumbu karang di perairan Banda. Tubuh mereka sangat mungil, tetapi penuh dengan garis-garis biru, jingga, dan kuning yang menyala indah.
“Duh, apakah matahari sudah benar-benar tenggelam?” tanya Dari sambil melongokkan kepalanya sedikit dari sela karang.
“Belum, Dari. Sabarlah! Tubuh kita terlalu terang untuk keluar sekarang. Para predator akan sangat mudah melihat kita di bawah sinar matahari,” jawab Manda dengan tenang.
Ikan mandarin memang dikenal sebagai ikan yang sangat pemalu. Mereka menghabiskan sepanjang siang dengan bersembunyi. Mereka baru akan keluar dari persembunyian tepat saat senja tiba ketika langit mulai jingga dan air laut surut.
“Tapi, aku sudah lapar sekali! Dan, aku ingin melatih tarian siripku untuk pesta nanti malam,” keluh Dari lagi.
Saat bercakap-cakap, tiba-tiba air di sekitar mereka terasa bergejolak. Sebuah bayangan besar menutupi celah karang tempat mereka bersembunyi.
“Sstt! Lihat itu!” bisik Manda.
Di depan mereka, seekor kuda laut ekor tumpul bernama Kemuning tampak tersangkut di jaring nelayan yang terbuang dan tersangkut di karang. Kemuning meronta-ronta, tetapi ekornya justru makin melilit kuat pada benang nilon yang kaku itu.
“Tolong! Siapa pun, tolong aku!” rintih Kemuning.
Dari ingin segera keluar, tapi ia ragu. “Manda, hari belum cukup gelap. Kalau kita keluar sekarang, ikan-ikan besar akan melihat warna tubuh kita yang mencolok.”
Manda terdiam sejenak. Ia melihat Kemuning yang mulai kelelahan. “Kita tidak bisa menunggu gelap, Dari. Kemuning bisa pingsan karena kehabisan tenaga.”
Dengan keberanian besar, kedua ikan mungil itu keluar dari persembunyiannya. Benar saja, di bawah sisa cahaya senja, tubuh Manda dan Dari tampak berkilau seperti permata di dalam air. Mereka berenang cepat menuju jaring itu.
“Tenanglah, Kemuning. Kami akan membantumu!” seru Manda.
Manda dan Dari menggunakan mulut kecil mereka untuk mematuk-matuk lumut dan kotoran yang membuat jaring itu licin, sambil membantu mengarahkan ekor Kemuning agar bisa terlepas dari lilitan. Berkat kelincahan tubuh yang kecil, mereka berhasil melonggarkan celah jaring.
“Hore! Aku bebas!” Kemuning bersorak pelan sambil menggerakkan ekornya menjauh dari jaring maut itu.
Tepat saat itu, cahaya matahari benar-benar hilang. Laut menjadi gelap dan itulah saat yang paling aman bagi ikan Mandarin.
“Terima kasih, kalian berdua. Warna tubuh kalian yang cerah tadi benar-benar menjadi cahaya harapan buatku,” kata Kemuning tulus.
Manda dan Dari tersenyum. Ternyata, warna tubuh mereka yang biasanya membuat mereka takut keluar, justru menjadi penyelamat bagi teman yang membutuhkan. Malam itu, di bawah langit yang telah gelap, mereka bertiga merayakan kebebasan Kemuning dengan menari bersama di antara terumbu karang yang tenang